Sabtu, 11 Mei 2013

perjalanan ini

kan kutempuh perjalanan panjang ini
perjalanan yang melelahkan
dahaga tak putus-putus..

kan kucatatat perjalanan ini
perjalanan yang melelahkan
kesejukan tak jua datang..

kan kusimpan cerita perjalanan ini
perjalanan yang melelahkan
lembar hidup pasti berganti...

hidup tidak sekadar menuai madu
penuh racun pun bukan berarti mati
aku ingin lari dari segala benci
[..]

Senin, 01 Oktober 2012

Aktivis Kiri di Celah Aniaya


Lukisan 'Istana Jiwa' karya Ki Joko Wasis. Dilukis di acara bedah novel Istana Jiwa karya Putu Oka Sukanta di Unisma Kota Bekasi, Juni lalu, dalam waktu tak lebih satu jam. Kini lukisan tersebut berada di tagan sang penulis, Putu Oka Sukanta.
Untuk yang dilupakan dan terlupakan.. 
‘Kalau kalian berhasil kuliah di Kuba, apa akan menikah di sana?’ tanya seorang tante kepada kemenakannya. ‘Tidaklah Tante, kami mau menyelesaikan kuliah dulu. Soal nikah, soal nanti kalau sudah kembali ke tanah air. Revolusi belum selesai, Tante,” jawab sang kemenakan yang datang bersama kekasihnya dari Yogya ke Jakarta untuk mengikuti kongres CGMI (Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) di Gelora Bung Karno. 
[..]

Selasa, 17 April 2012

Titanic


Perkenalan saya dengan Titanic mungkin tidak menimbulkan empati mendalam. Saya mengetahui lewat film garapan James Cameron, kira-kira ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu, bagi saya Titanic hanyalah sebuah kisah romantis di atas kapal raksasa. Jika anak-anak Eropa merasakannya sebagai tragedi, bagi saya Titanic tak lebih dari cerita seks Jack dan Rose.
[..]

Minggu, 15 April 2012

Menghadirkan Pasar Tradisional Dalam Kampus

(Naskah asli 'Ada Pasar di Kampus...' di Harian Kompas)


Dalam sebuah pigura persegi empat terpampang sosok nenek tua sedang menyapu sisa-sisa beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur. Tubuhnya telah bungkuk dan dipenuhi julur kulit yang mengeriput. “Banyaknya beras yang jatuh dari karung memaksa Elis (67) untuk menyapunya. Namun ia melakukan itu semua demi menghidupi diri dan keluarganya di Serang, Banten,” tulis sang fotografer di bawah foto.

Kampus Tercinta Photography Club 32 (Kaphac 32) sengaja menghadirkan suasana pasar tradisional Jakarta dalam pameran bertajuk Susur Pasar di IISIP Jakarta, Selasa hingga Sabtu (17/03/2012). Sebanyak 50 foto dari 12 calon anggota angkatan ke-16 UKM ini memenuhi dinding ruang pameran. Sebelum masuk, pengunjung diberi stiker dan kertas kecil oleh panitia untuk menulis salah satu judul foto yang dirasa paling menarik.

“Seperti pameran sebelumnya, kami selalu membagikan kertas kecil. Jadi di setiap pemeran kami punya foto favorit. Nantinya, foto-foto favorit dari beberapa pameran akan kami pamerkan lagi,” ujar panitia pameran, Fachrul.

Tema Susur Pasar sengaja dipilih Kaphac untuk, salah satunya, agar pengunjung pameran menemukan sisi lain pasar tradisional. Kaphac ingin mengajak mahasiswa membuka mata, merenung dan mengingatkan bahwa keberadaan pasar tradisional mulai terpinggirkan serta dipandang sebelah mata. Jakarta sudah dikepung angkuhnya gedung-gedung dan pusat perbelanjaan modern.

Padahal jika dicermati, pasar tradisional merupakan tulang punggung perekonomian rakyat. Masyarakat menengah ke bawah lebih memilih berbelanja ke pasar tradisional. Kebutuhan pokok pun dianggap lebih murah jika dibandingkan di pasar modern, misalnya sayur-mayur atau buah-buahan. Namun, karena penataan yang kurang baik, pasar tradisional jadi terkesan kumuh.

Tidak hanya memotret suasana kelam, Kaphac berusaha menghadirkan sisi lain pasar yang lebih menarik. Kaphac ingin melawan persepsi buruk masyarakat terhadap keberadaan pasar tradisional. Stigma kotor, tidak nyaman dan rawan tindak kriminalitas coba dikikis dengan potret-potret keceriaan. Menurut Kaphac, di pasar tradisional kita menemukan arti kerja keras dan optimisme hidup.

“Mereka adalah orang-orang yang memiliki gairah hidup. Orang pasar tidak mengenal malas. Kita perlu belajar dari mereka,” kata Fachrul.

Mahasiswa, dengan hobinya masing-masing, sebenarnya bisa mengamalkan Tridarma Perguruan Tinggi. Kaphac secara tidak langsung turut membangun kesadaran masyarakat melalui program pameran rutin. Mereka terjun langsung ke lapangan untuk mengenali obyek yang akan diambil. Tak jarang mereka melakukan observasi sebelum menentukan tema pameran.

Menantang
Awalnya, Kaphac ragu untuk menelusuri pasar tradisional di Jakarta. Banyaknya cerita naas korban tindak kriminalitas, pengambilan barang berharga secara paksa dan pencopetan sempat membuat mereka berpikir dua kali. Namun mereka tidak patah semangat, Kaphac mesti membawa suasana pasar tradisional ke dalam kampus.

“Keadaan pasar yang sesak dan penuh genangan air di tanah tentu berisiko buat kamera kami. Tapi tekad sudah bulat, kami anggap ini tantangan,” ungkap Tyas, calon anggota Kaphac.

Senada dengan Tyas, Dionesia, menceritakan susahnya mengambil potret para pedagang pasar. Pedagang agak takut tertangkap jepretan kamera. Bahkan, seorang lelaki di sekelilingnya pun turut mendatangi Dionesia. Lelaki itu mengajukan berbagai pertanyaan, dari mulai tujuan memotret, mau dimuat di koran mana, hingga ada seloroh minta dibayar.

“Setelah saya jelaskan, mereka dengan suka rela mau dipotret. Ini pengalaman berharga, mereka ternyata baik-baik. Di sinilah, mungkin ilmu komunikasi yang saya pelajari bisa dipraktikkan,” kata Dionesia.

Selain menyusuri pasar induk, Kaphac juga memotret suasana pasar yang dianggap tidak lazim seperti Pasar Stasiun Duri, Jakarta Barat. Akibat keterbatasan lahan dan minimnya perhatian pemerintah menata pasar, pedagang terpaksa menggelar dagangannya di sepanjang rel kereta. Pedagang dan pembeli di pasar ini tidak sekadar melakukan transaksi jual-beli, mereka juga saling mengingatkan jika ada kereta yang mau berhenti atau berjalan dari stasiun. Pasar Stasiun Duri adalah bukti bahwa pasar tradisional masih menjadi ruang interaksi masyarakat menengah bawah di Jakarta.

Pameran Susur Pasar ini mendapat sambutan hangat dari mahasiswa IISIP Jakarta. Pengunjung tidak cukup hanya melihat sepintas karya-karya anak Kaphac, mereka mengamati dengan detail. Mahasiswa heran, terkejut dan tergugah setelah masuk ruang pameran. Gaya hidup anak muda yang cenderung hedonis seolah-olah mendapat kritikan tajam dari Kaphac.

Bagi sebagian besar mahasiswa, gambaran kenyamanan pasar tradisional yang diceritakan bapak dan ibunya memang telah usang. Pasar tradisonal yang dulu selalu jadi tempat beramah-tamah dan jalan-jalan pagi, kini mulai tergantikan peranannya oleh mall. Mahasiswa sudah melupakan jajanan pasar dan panganan tradisional dengan harga terjangkau. Pasar tradisonal tidak lagi jadi tempat bertemunya semua kalangan, tetapi telah dicap sebagai pasar orang miskin.

“Kaphac menghadirkan pasar tradisional lewat berbagai sudut yang bagi saya mustahil bisa melihatnya secara langsung. Dengan foto-foto ini, Kaphac menegur kami dengan sangat sopan,” ucap pengunjung, Dita.

Bersama membuka mata
Dari sebuah obrolan ringan di sudut-sudut kampus, para penggila fotografi di IISIP Jakarta ini pada tahun 90an bersepakat membentuk komunitas. Kaphac akhirnya mulai berani memamerkan hasil karyanya di kampus. Kebiasaan mereka bertukar informasi tentang teknik fotografi dan jual-beli lensa berjalan hingga kini. Mahasiswa yang tidak tergabung dalam Khaphac pun bebas ‘nimbrung’ untuk mencari ilmu memotret di tempat biasa mereka nongkrong.

Dengan kepiawaiannya membangun jaringan, Kaphac bisa mengadakan pameran di luar kampus. Tema yang diangkat selalu menarik perhatian banyak orang. Misalnya, dua tahun yang lalu Kaphac mengadakan pameran bertajuk “Relief of Jogja” di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

Foto-foto mereka memukau ratusan pengunjung. Melalui pameran Relief of Jogja, Kaphac menunjukkan pada kita bahwa kebudayaan Indonesia ternyata begitu beragam dan masyarakatnya ramah senyum. Meskipun banyak kalangan sering pesimis akan merosotnya nilai-nilai tradisi, Kaphac justru hadir membawa semangat optimisme baru.

Desember lalu, Kaphac mengadakan pameran foto “1000 Pulau 1000 Cerita” di Galeri Fotografi Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Foto keindahan alam dan aktivitas masyarakat Kepulauan Seribu diambil begitu apik dan menarik. Kaphac juga mengajak pengunjung melihat perjuangan masyarakat menanam mangrove.

Masalah yang ada di Kepulauan Seribu akhirnya dapat diketahui banyak orang. Kesederhanaan masyarakat sekitar dapat menjadi teladan kaum urban yang cenderung apatis terhadap lingkungan. Acara yang turut didukung Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kepulauan Seribu ini juga menyelenggarakan donasi untuk penanaman mangrove di pulau-pulau yang terancam abrasi.

Di IISIP Jakarta sendiri, selain pameran ‘Susur Pasar’, Kaphac pernah pula menggemparkan mahasiswa dengan pameran ‘ProfeSHE’. Kaphac menyajikan foto-foto lelaki dan perempuan yang mempunyai profesi unik. Dari mulai pesepak bola muda, dalang hingga kondektur perempuan. Lagi-lagi Kaphac berhasil membuka cakrawala berpikir teman-teman mahasiswa.

Keberadaan Kaphac di IISIP Jakarta telah menjadi kebanggan mahasiswa dan pihak kampus. Mereka mampu mengamalkan ilmu yang didapat dari kampus untuk kepentingan orang banyak. Setidaknya, melalui Pameran Susur Pasar, Kaphac mengajarkan kita bahwa tindakan nyata lebih terasa manfaatnya daripada hanya berbual-bual dengan ide. Seperti ungkapan jurnalisme klasik, Kaphac berusaha mengibur yang papa dan mengingatkan yang mapan.*

(Artikel ini pernah dimuat di Harian Kompas Selasa (21/03/2012), halaman 35 rubrik Kompas Kampus dengan judul ‘Ada Pasar di Kampus.)
[..]

Senin, 12 Maret 2012

Menebar Budi Pekerti lewat Sastra Lokal


Menulis karya sastra bukan sekadar menuturkan bahasa indah, tetapi yang terpenting bagaimana penulis mampu menorehkan tintanya dengan ketulusan hati. Sehingga, sastra akan menjelma budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Begitu juga puisi dan pantun khas Bekasi yang diusung Ridwan Fauzi dan Guntur El Mogas. Kedua penulis ini berusaha mengabadikan peristiwa yang dialaminya melalui medium aksara secara berbeda.

Sastra dengan bahasa lokal pada akhirnya dapat menjadi saksi sejarah. Jika fakta dikuatkan bahasa, apalagi mendapat penekanan dialek, maka akar budaya di dalam karya terasa kental. Sesungguhnya, penulis puisi atau pantun merupakan arsitek kemanusiaan: ia piawai menyusun butir-butir kebaikan menjadi sebuah bangunan budaya, kemudian turut mengukuhkan peradaban.
Untuk melakukan tugas kemanusiaan itu, seorang penulis harus bertanggung jawab atas karyanya. Guntur El Mogas dan Ridwan Fauzi tentu saja berusaha menjunjung kejujuran kreatif. Untuk itu, ketika menuliskan puisi atau pantun, sudut pandang mereka terhadap obyek karya pun menjadi tulus. Bahkan penulis melakukan observasi dan penggalian pustaka.

Selama ini, banyak sekali unsur lokalitas tergusur. Bekasi sebagai kota besar tak dapat menghindari ganasnya laju urbanisasi. Tanah-tanah pribumi tergantikan bangunan pabrik, mall atau rekreasi komersial lainnya. Akibatnya, kebiasaan atau budaya lama pun lamat-lamat hilang: permainan tradisional dianggap usang, pakaian daerah dipandang aneh dan dialek asli coba dibunuh atasnama Indonesia.

Pergeseran nilai budaya bergerak secara acak dan tanpa disadari perubahan terasa begitu cepat. Masyarakat pribumi, karena tak mendapat tempat, akhirnya hanya menjadi penonton di kandang sendiri. Apa yang dilakukan Guntur El Mogas dan Ridwan Fauzi mesti diapresiasi terus-menerus. Adanya wacana membuat kurikulum muatan lokal bahasa Bekasi merupakah satu langkah cerdas untuk menerangkan identitas Bekasi. Sebab Bekasi bukanlah Sunda atau Betawi, ia memiliki bahasa sendiri.

Sedikit menilik puisi Er Fauzi

Keyakinan lama bahwa sastra merupakan akar dari seni dan budaya sepatutnya diperkuat kembali. Dari sastra, masyarakat mampu mengejawantahkan petuah-petuah leluhur. Sastra berusaha mengingatkan, mengajak bahkan menggugat keadaan sehari-hari. Barangkali coretan-coretan di gua-gua di masa silam merupakan semacam kristalisasi niat guna mengabarkan pesan kebaikan pada manusia sesudahnya.

Dengan puisi-puisinya, Ridwan Fauzi ikut menggeliatkan dan mengenalkan sastra lokal pada masyarakat. Latar belakang dia sebagai pendidik, misalnya, dapat menginspirasi siswa untuk menulis. Gaya penulisan Ridwan memang berbeda dengan Guntur El Mogas, perbedaan ini justru menjadi keragaman yang membangun. Jika Kong Guntur kerap menggunakan gaya pantun, Ridwan malah cenderung seperti puisi bebas.

Ada pun tema yang diangkat Ridwan kebanyakan adalah protes sosial atas ketidakadilan. Penulis hidup di jaman ketika modernisme datang menggebu-gebu, wajar jika ia memiliki perhatian khusus pada kesenjangan sosial. Lewat puisinya yang berjudul “Masing Ada Lampu Merah Nyeng Nyala”, ia berusaha menguak tabir anak jalanan. Namun, dengan kepiawaian dia, puisi tersebut menjadi karya yang menggugah, menebar rasa percaya diri dan menampar kedigdayaan orang mapan.

Lebih menariknya lagi, Ridwan Fauzi berhasil menyelami obyek karyanya. Ia mampu membangunkan sosok-sosok anak perempatan lampu merah dengan amat lunak. Jika seorang anak kecil membaca pun, puisinya akan tetap relevan. Lampu merah baginya hanyalah analogi saja. Makna dari puisi tersebut ternyata sangat sarat api semangat dan tentu saja dilihat dari sudut mana pun pesannya tetap sampai. Dia menyajikan idiom-idiom universal. Semoga kemunculan Ridwan Fauzi dapat menginspirasi anak muda agar terus mengangkat sastra lokal Bekasi.

Demikianlah beberapa butir pikiran yang mengemuka dalam acara Bedah Karya Ridwan Fauzi, di Universitas Islam ‘45’ Kota Bekasi, (02/03/2012). Acara ini diadakan Komite Sastra Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Kota Bekasi. Turut hadir pula Sastrawan Irman Syah dan Khairil Gibran Ramadhan dari Jakarta.


MASING ADA LAMPU MERAH NYENG NYALA
Karya Ridwan Fauzi


Selagi lampu nyeng merah ntuh nyalah
Tenggorokan nyeng kering keausan ilang
Perihnya perut nyeng laper ngga kepanjangan

Kalu lampu merah ntuh nyalah
Bocah belarian jejingkrakan
Maenin kecrek dari kerop di tangan
Ngiringin nyanyian seketemunyah

Di samping kaca item mobil mobil mewah
Gegaruk tangannyah
Di kepala nyeng kaga gatel
Ngelietin kaca mobil kaga ada nyeng dibuka

Marah, putus asa, kaga ada di kamusnyah
Dia terusin di mobil blakangnyah
Cring… gopean jatoh ngegelinding di aspal
Kerna lampu ijo udah nyalah

Bocah pada ngibrit ke pinggiran
Nungguin jalanan sepian
Nyariin gopean tadi yang jatoh tau ke mana

Tenang ajah kawan
Lampu merah ntuh pasti masing nyalah
Kita kaga bakal mati kelaparan dah
Nyeng penting semangat kaga boleh kalah..

(Radar Bekasi (09/03/2012) Rubrik Budaya halaman 6)
[..]